Rektor UNMA Ingatkan Wisudawan Hadapi Era AI: Jangan Biarkan Algoritma Mendikte Moralitas

MAJALENGKA — Rektor Universitas Majalengka (UNMA), Dr. H. Otong Syuhada, S.H., M.H., mengingatkan para wisudawan agar tidak memandang prosesi wisuda sebagai akhir dari perjalanan akademik. Sebaliknya, gelar yang diraih harus menjadi awal pembuktian ilmu, kompetensi, sekaligus integritas di tengah masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Otong dalam Sidang Senat Wisuda Sarjana dan Magister XXVII Universitas Majalengka yang berlangsung di Auditorium UNMA, Sabtu (17/10/2026).

Mengawali sambutannya, Otong menyampaikan selamat kepada seluruh wisudawan atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar akademik.

Menurutnya, keberhasilan tersebut bukanlah garis akhir, melainkan gerbang menuju fase baru yang menuntut para lulusan membuktikan kemampuan dan ilmu yang diperoleh selama menjalani proses pendidikan di kampus.

“Keberhasilan ini bukanlah sebuah garis akhir, akan tetapi merupakan gerbang transisi menuju pembuktian tentang keabsahan ilmu yang telah saudara-saudara pelajari dan miliki melalui proses pembelajaran di ruang-ruang kelas maupun di laboratorium-laboratorium kampus,” ujar Otong.

Ia menjelaskan, secara epistemologis, wisuda merupakan bentuk pengakuan formal terhadap kompetensi analitis, metodologis, dan konseptual seorang lulusan. Namun, gelar akademik sekaligus membawa konsekuensi moral serta tanggung jawab ilmiah.

Ijazah, kata dia, tidak semestinya hanya dipandang sebagai simbol keberhasilan pendidikan. Lebih dari itu, ijazah harus menjadi pengingat bagi setiap lulusan untuk terus mencari, menguji, dan mempertahankan kebenaran berdasarkan fakta, objektivitas, serta integritas.

Tantangan Sarjana di Tengah Ledakan Kecerdasan Buatan

Dalam kesempatan tersebut, Otong juga mengajak para wisudawan memahami perubahan besar yang tengah berlangsung di dunia, terutama di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menurutnya, para lulusan UNMA memasuki dunia profesional pada era yang ditandai volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas, ambiguitas, serta perkembangan teknologi yang berlangsung secara eksponensial.

Kehadiran teknologi generative AI, lanjut Otong, telah mengubah lanskap produksi pengetahuan dan meningkatkan efisiensi kerja manusia secara fundamental.

Namun, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru berupa epistemic crisis, ketika batas antara informasi yang benar, disinformasi, dan komodifikasi kebenaran semakin sulit dibedakan.

“Dalam konteks inilah signifikansi seorang sarjana diuji,” tegasnya.

Otong menilai kemampuan teknologi dalam mengolah data dalam jumlah besar dengan kecepatan tinggi tidak serta-merta membuat mesin mampu menggantikan seluruh aspek kemanusiaan.

Setidaknya terdapat tiga aspek fundamental yang menurutnya tetap menjadi kekuatan manusia, yakni kesadaran etis, empati sosial, dan kompas moral.

Karena itu, ia mengingatkan para lulusan agar tidak menyerahkan pertimbangan moral sepenuhnya kepada teknologi.

“Jangan biarkan algoritma mendikte moralitas saudara. Sandingkan kecerdasan buatan dengan integritas ilmiah yang kokoh,” pesannya.

Ia juga mengingatkan agar ilmu pengetahuan yang dimiliki para sarjana digunakan untuk melakukan verifikasi dan validasi terhadap kebenaran, bukan menjadi alat untuk memproduksi maupun menyebarluaskan hoaks dan plagiarisme digital.

“Gunakan ilmu saudara sebagai instrumen untuk memvalidasi kebenaran, bukan justru menjadi bagian dari produk hoax atau plagiarism digital,” katanya.

Sarjana Dituntut Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat

Otong selanjutnya menekankan bahwa ilmu pengetahuan bersifat dinamis. Apa yang dianggap sebagai kebenaran ilmiah hari ini sangat mungkin mengalami penyempurnaan ketika ditemukan fakta maupun pengetahuan baru.

Karena itu, status sebagai sarjana tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti belajar.

“Konsekuensinya, status sebagai sarjana yang saudara-saudara sandang hari ini mewajibkan saudara untuk menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat,” ujarnya.

Ia menyebut tiga nilai penting yang perlu dimiliki para lulusan dalam menghadapi perubahan zaman, yakni adaptabilitas, inovasi berkelanjutan, dan kemitraan multidisiplin.

Pertama, adaptabilitas. Para sarjana dituntut mampu merekonstruksi pemikiran ketika berhadapan dengan fakta dan data baru yang lebih sahih.

Kedua, inovasi berkelanjutan. Lulusan perguruan tinggi diharapkan berani keluar dari zona nyaman berpikir serta mampu menghadirkan solusi atas persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, bangsa, dan negara.

Ketiga, kemitraan multidisiplin. Menurut Otong, berbagai persoalan global seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, hingga kesenjangan ekonomi tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu disiplin ilmu.

“Saudara harus mampu berkolaborasi secara lintas sektoral,” tandasnya.

Ia berharap para lulusan UNMA mampu membawa pengetahuan yang diperoleh selama berada di kampus ke tengah masyarakat. Gelar akademik, menurutnya, harus diterjemahkan menjadi kompetensi, integritas, inovasi, serta kontribusi nyata.

Dengan demikian, keberhasilan seorang sarjana tidak semata-mata diukur dari gelar yang tertera di belakang nama, tetapi dari sejauh mana ilmu yang dimiliki mampu memberikan manfaat dan menjawab persoalan nyata di lingkungan sekitarnya.

Bupati Eman : UNMA Pilar Pendidikan dan Pembangunan Majalengka

Sementara itu, Bupati Majalengka Drs. H. Eman Suherman, M.M., memberikan apresiasi terhadap Universitas Majalengka yang dinilainya konsisten mengambil peran dalam mencetak sumber daya manusia berkualitas untuk mendukung pembangunan daerah.

Apresiasi tersebut disampaikan Eman kepada UNMA yang berada di bawah naungan Yayasan Pembina Pendidikan Majalengka (YPPM) dan kepemimpinan Rektor Dr. H. Otong Syuhada.

Menurut Eman, keberadaan UNMA tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat, tetapi juga telah memberikan kontribusi terhadap penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Majalengka.

“UNMA terus konsisten membuktikan diri sebagai pilar utama pendidikan di Kabupaten Majalengka yang mampu mencetak sumber daya manusia yang cerdas, berkualitas, dan berdaya saing tinggi untuk mendukung kemajuan daerah kita,” ujar Eman.

Eman mengungkapkan, berdasarkan informasi dari Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Majalengka, lulusan UNMA juga memiliki porsi yang cukup besar di lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka.

Ia menyebut sekitar 30 persen pegawai ASN pada jajaran teknis merupakan lulusan UNMA. Jika digabungkan dengan tenaga pendidik atau guru, proporsinya disebut mendekati 50 persen.

“Ini adalah sebagai bukti bahwa kami komitmen bukan hanya bangga tentang keberadaan UNMA, tetapi juga mensupport dan sekaligus memberdayakannya,” katanya.

Menurut Eman, dukungan terhadap perguruan tinggi lokal merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus mendorong kemajuan daerah.

Ia menegaskan, kebanggaan terhadap UNMA harus dimulai dari masyarakat Majalengka sendiri, termasuk pemerintah daerah sebagai bagian dari ekosistem pembangunan pendidikan.

“Siapa lagi yang harus bangga dan membanggakan kalau bukan diawali dari kita pemiliknya, dari kita masyarakatnya, dan dari kita pemerintahnya,” tegasnya.

Orang Tua Diminta Terus Mendoakan Anak

Dalam kesempatan tersebut, Eman juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua dan wali wisudawan yang telah memberikan dukungan, pengorbanan, serta doa hingga anak-anak mereka mampu menyelesaikan pendidikan.

Ia mengingatkan para orang tua agar tidak pernah berhenti mendoakan anak-anaknya karena dukungan keluarga menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan kehidupan generasi muda.

“Tidak ada anak yang sukses, tidak ada anak yang hebat, tidak ada anak yang pemilik masa depan jika tidak diawali oleh adanya doa orang tua,” tuturnya.

Kepada para wisudawan, Eman berpesan agar pencapaian akademik tidak berhenti pada seremoni wisuda. Para lulusan diharapkan mampu melanjutkan kiprahnya dengan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan Kabupaten Majalengka.

Ia mengajak generasi muda membangun komunikasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah dalam mendorong kemajuan daerah.

Eman juga kembali menegaskan makna tagline pembangunan yang diusung pemerintahannya, yakni “Majalengka Langkung Sae.”

Menurutnya, konsep tersebut bukan sekadar slogan, melainkan semangat untuk mendorong seluruh individu dan elemen masyarakat agar terus melakukan perbaikan dari waktu ke waktu.

Ia mengaitkan semangat tersebut dengan pesan yang dinisbatkan kepada hadis Rasulullah SAW mengenai pentingnya menjadi pribadi yang lebih baik dari hari sebelumnya.

“Saya ingin kepada adik-adikku, temanku, yuk untuk selalu berbuat lebih baik, lebih baik, lebih baik,” katanya.

Eman menegaskan, kemajuan Majalengka tidak mungkin diwujudkan hanya oleh pemerintah. Seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda dan perguruan tinggi, harus mengambil bagian dalam pembangunan.

“Tidak mungkin Majalengka bisa sae kalau semuanya tidak ikut terlibat,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak para wisudawan UNMA menjadi bagian dari generasi penerus yang mampu menghadirkan perubahan positif bagi daerah.

“Sebagai generasi penerus daerah, sangat menantikan kiprah dan kontribusi nyata rekan-rekan untuk membangun Kabupaten Majalengka yang kita cintai ini. Mari kita bersinergi, berkolaborasi, dan menyatukan langkah untuk mewujudkan visi pembangunan kita, yakni menjadikan Majalengka yang langkung sae,” pungkasnya.
Ahmad Hudri Harisman

Pos terkait