Dikomplain Menu MBG Ikan Berbau dan Buah Diduga Basi, SPPG Akui dan Sampaikan Permohonan Maaf, Namun Tanpa Kompensasi.

Majalengka – Sejumlah wali murid di salah satu sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Desa Cikalong, Kecamatan Sukahaji, mengeluhkan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima anak-anak mereka.

Keluhan tersebut berkaitan dengan lauk ikan yang disebut berbau tidak sedap serta buah yang diduga sudah basi. Peristiwa itu terjadi pada Selasa (4/8/2026).

Salah seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa dengan kualitas makanan yang diterima. Menurutnya, ikan yang disajikan berukuran kecil dan mengeluarkan bau tidak sedap sehingga dikhawatirkan tidak layak dikonsumsi.

“Muhun lauk cai (ikan) aralit (kecil), baunya tidak enak, seperti sudah lama dan belum matang,” ujarnya saat ditemui di lingkungan sekolah, Rabu (5/8/2026).

Karena khawatir terhadap kesehatan anak, beberapa wali murid memilih membuang lauk ikan tersebut. Wali murid lainnya juga mengaku beberapa kali menemukan buah yang disajikan dalam kondisi berlendir dan diduga sudah tidak segar.

Pihak sekolah membenarkan adanya keluhan tersebut dan menyatakan telah menyampaikannya kepada pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Haruman Jaya Mandiri di Desa Cikalong.

Saat dikonfirmasi, Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) SPPG Yayasan Haruman Jaya Mandiri, Zoniman, membenarkan pihaknya menerima laporan dari sejumlah sekolah.

“Iya betul, memang ada beberapa sekolah yang menyampaikan komplain kepada kami,” katanya, ditemui dikantornya, Kamis (06/08/2026).

Zoniman mengatakan pihak SPPG mengakui kesalahan dan telah menyampaikan permohonan maaf kepada para penerima manfaat melalui pihak sekolah.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa proses pengolahan makanan telah melalui standar SOP, pengolahannya dimulai sejak pukul 02.00 WIB dini hari. Khusus menu ikan, proses pematangannya dilakukan dengan metode steam (kukus) untuk menjaga kandungan gizinya tetap terjaga.

Selanjutnya, proses pengemasan (packing) dilakukan pada pukul 04.00 WIB. Setelah itu, sekitar pukul 05.00 WIB, staf ahli gizi Roheni, melakukan pemeriksaan dan mencicipi sampel makanan secara acak (random), untuk memastikan kualitas, keamanan, dan kelayakan makanan sebelum didistribusikan.

Roheni mengatakan, bau pada ikan diduga disebabkan keterlambatan proses pengolahan akibat bumbu yang datang terlambat. Kondisi tersebut membuat ikan tidak segera diproses setelah diterima.

“Mungkin itu dari kesalahan kita juga ya pak, karena kan bumbunya agak telat datang, jadi ikannya gak cepat di proses, jadi mungkin agak baunya itu dari sana nya juga,” jelas Roheni, saat dimintai keterangan mendampingi Zoniman.

Zoniman mengakui, bahwa hingga saat ini pihaknya tidak memberikan kompensasi atau penggantian makanan kepada para penerima manfaat atas kejadian tersebut.

Pihak redaksi masih membuka ruang hak jawab dan akan memuat penjelasan lebih lanjut dari pihak terkait apabila terdapat tanggapan tambahan.

Pos terkait